468x60 Ads

This is an example of a HTML caption with a link.

Ekspor Amerika Serikat ke Iran meningkat hampir 30 persen tahun ini, terutama penjualan biji-bijian, menurut data Amerika yang dirilis pekan lalu, meskipun pengetatan sanksi keuangan oleh Barat.

Menurut data Biro Sensus AS, nilai perdagangan meningkat menjadi 199.5 juta dolar pada delapan bulan pertama tahun 2012 dari 150.8 juta dolar pada tahun sebelumnya. Demikian dilaporkan Farsnews pada Senin (15/10) mengutip Reuters.

Data itu juga menunjukkan bahwa barang-barang seperti produk olahan susu dan peralatan medis terus mengalir meskipun sanksi Barat.

AS, Uni Eropa dan sekutu mereka telah memberlakukan sanksi untuk memaksa Republik Islam menghentikan program energi nuklirnya. (IRIB Indonesia/RM)
READ MORE

Osama Kamal, Menteri Perminyakan Mesir mengkonfirmasikan pemutusan ekspor gas ke Yordania dan Spanyol akibat peningkatan permintaan pasar dalam negeri.

Kamal, Selasa (16/10) mengatakan, "Akibat peningkatan konsumsi gas di dalam negeri, Mesir menghentikan ekspor gasnya ke Yordania dan Spanyol dan para pejabat kedua negara diharapkan dapat memahami keputusan Kairo ini."

Dalam sidang parlemen, Osama Kamal menyatakan, "Kementerian perminyakan telah menyerahkan dua draf kepada pemerintah yang di dalamnya tercantum berbagai kejahatan jual-beli minyak di pasar gelap dan masalah ini akan dibahas pada pertemuan kabinet Rabu besok (17/10)."

Ditegaskannya bahwa mulai sekarang, pemerintah akan mengambil langkah-langkah pengawasan lebih ketat dalam proses distribusi produk minyak dan gas di negara ini."(IRIB Indonesia/MZ) 
READ MORE

Penghentian pengayaan uranium di Iran bukan berarti bahwa sanksi terhadap negara ini akan berakhir. Sanksi-sanksi oleh Amerika Serikat diberlakukan bukan karena kekhawatiran tentang kemungkinan pencapaian senjata nuklir oleh Iran, melainkan karena penentangan Republik Islam terhadap politik Amerika. 

Cape Breton Post dalam edisi Senin (15/10) melaporkan bahwa anjloknya nilai rial di hadapan valuta asing dan tutupnya pasar Iran untuk sehari telah menimbulkan asumsi di Amerika Serikat dan Barat bahwa Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tengah menghadapi kendala serius yang mungkin akan berujung pada berakhirnya pengayaan uranium.

Berdasarkan laporan tersebut, Ahmadinejad menisbatkan krisis valas itu dengan sanksi dari pihak asing dan berbagai kendala dalam perdagangan Iran. Akan tetapi para penentangnya di dalam negeri justru menyalahkan Ahmadinejad dan berpendapat bahwa hanya sebagian kecil saja dari masalah yang ada ini berkaitan dengan sanksi, adapun 80 persennya berakar dari miss-management pemerintahan Ahmadinejad.

Sumber ini menulis, jika krisis ekonomi di Iran dapat kita kaitkan dengan sanksi, lalu apakah Barat dapat memaksa Iran untuk menghentikan program nuklirnya?

Media Amerika ini lebih lanjut menjelaskan bahwa poin pertama yang harus ditekankan adalah bahwa Iran tidak punya rencana untuk memproduksi senjata nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga telah mengkonfirmasikan hal ini.

Juga harus diakui pula bahwa program nuklir Iran hingga kini tidak bahkan lebih rendah dibanding aktivitas nuklir yang ada di banyak negara termasuk Argentina, Brazil, Jerman, Jepang, dan Belanda.

Selain itu, mesin-mesin pengayaan uranium Iran semuanya berada di bawah kontrol Badan Energi Atom Internasional.

Rezim Zionis Israel menyebut senjata-senjata nuklir Iran sebagai ancaman terhadap eksistensinya, sementara Amerika Serikat berpendapat bahwa Iran tidak merencanakan program cepat untuk memproduksi senjata nuklir.

Muncul pertanyaan di sini, lalu apa maksud dari sanksi terhadap Iran?

Menurut Cape Breton Post, sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap Iran sama sekali tidak ada kaitannya dengan kekhawatiran produksi senjata nuklir oleh Iran, akan tetapi karena penentangan Republik Islam terhadap politik Amerika Serikat dan atas tuntutan perubahan pemerintahan di negara itu.

Dengan demikian, penghentian pengayaan uranium sama sekali tidak berarti pencabutan sanksi, dan oleh karena itu mengapa pemerintah Iran harus merelakan haknya?

Di sisi lain harus dikemukakan bahwa masyarakat Iran sangat mencintai negaranya dan sangat menjaga kehormatannya, dan mereka tidak akan bangkit melawan pemerintahan di negara mereka  hanya  karena tekanan asing. Bahkan kemungkinannya mencapai nol persen.(IRIB Indonesia/MZ)
READ MORE

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei meremehkan sanksi Barat terhadap Republik Islam dan menyatakan bangsa Iran akan menanggapinya seperti masalah biasa. Ayatullah Khamenei dalam kunjungan kerja ke Provinsi Khorasan Utara pada hari Rabu (10/10) mengatakan, "Sekarang, musuh kita memperluas sanksi. Sanksi bukan merupakan masalah kemarin atau hari ini. Sanksi telah ada sejak awal, mereka mengintensifkan sanksi yang tidak efektif, mereka meningkatkannya lagi, ini juga tidak akan berhasil."

Rahbar kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Eropa berusaha menghubungkan sanksi dengan program energi nuklir Iran. Sebenarnya, alasan utama di balik sanksi Iran bukan masalah nuklir melainkan resistensi bangsa Iran melawan hegemoni global. Ayatullah Khamenei menepis klaim AS dan sekutunya bahwa mereka akan mencabut sanksi terhadap Iran jika Tehran menghentikan program energi nuklirnya.

Menurut beliau, Barat berpura-pura bahwa sanksi akan dicabut jika bangsa Iran menghentikan program energi nuklirnya. Mereka bohong! Mereka membuat keputusan itu atas dendam dan kebencian terhadap bangsa Iran dan menjatuhkan sanksi tidak rasional.

Lebih lanjut Rahbar menjelaskan bahwa bangsa Iran akan muncul sebagai pemenang dalam pertempuran ini, sebab mereka telah menghadapi berbagai masalah yang jauh lebih besar dari itu selama 33 tahun terakhir. Beliau menambahkan bahwa musuh sangat bersuka cita ketika mereka mendengar munculnya sedikit masalah di Iran dan mengatakan, "Dalam beberapa hari terjadi fluktuasi harga valuta asing dan rial, berita utama di media massa musuh dengan jelas menggambarkan kegirangan mereka."

Menyinggung aksi pembakaran sejumlah tempat sampah di sekitar Pasar Besar Tehran, Rahbar menjelaskan, "Ketika segelintir orang melakukan aksi pembakaran tempat-tempat sampah selama dua-tiga jam, musuh telah kegirangan dan menjadi heboh." Seraya menyinggung krisis yang dihadapi AS dan negara-negara Eropa, Ayatullah Khamenei menandaskan, "Kondisi kami yang buruk atau Anda? Sekarang sudah hampir setahun di jalan-jalan besar Eropa siang dan malam terjadi demonstrasi, kondisi kalian jauh lebih rumit dari kendala kami. Ekonomi kalian telah terkunci, lantas kalian senang dengan melemahnya perekonomian Iran? Kalian sendiri yang naas dan sedang menuju kehancuran. Republik Islam tidak akan hancur dengan masalah-masalah kecil ini. Masalah besar justru sedang dihadapi oleh AS dan Barat!"

Pekan lalu, Ayatullah Khamenei mengatakan rakyat Iran dengan mengikuti ajaran agama adalah bukan bangsa agresor dan pengobar perang, namun tidak akan tinggal diam terhadap serangan pihak lain. Rahbar pada hari Jumat (12/10) dalam apel gelar pasukan di Provinsi Khorasan Utara, menyebut Angkatan Bersenjata Republik Islam sebagai faktor keamanan dan pengayom bangsa Iran dari ancaman-ancaman asing. Beliau menambahkan, motivasi agresor untuk mengobarkan perang adalah menjual senjata dan memakmurkan industri militer milik kaum kapitalis.

Pada kesempatan itu, Rahbar menegaskan, satu-satunya faktor yang akan memperlemah atau memusnahkan motivasi Barat adalah kesiapan bangsa secara keseluruhan dan juga persiapan Angkatan Bersenjata Republik Islam. Seraya menyatakan bangsa Iran, terutama kaum muda dan angkatan bersenjata kini lebih siap untuk membela negara, Rahbar menandaskan kesiapan dan semangat baja bangsa dan angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan musuh untuk berpikir menyerang Republik Islam.

Sementara itu dalam pertemuan dengan anggota keluarga syahid, veteran perang, dan para pahlawan Propinsi Khorasan Utara, Ayatullah Khamenei menyatakan, komposisi masyarakat sekarang dipenuhi oleh para pemuda pemberani, sadar, mengetahui kewajibannya dan menguasai isu-isu politik. Menurut beliau, munculnya generasi muda tersebut adalah berkah dari darah suci para syuhada. Banyak yang gugur dalam perjalanan Revolusi Islam, akan tetapi pada saat yang sama muncul banyak tunas baru, lebih bersemangat, bertekat dan berwawasan. Menurut Ayatullah Khamenei, bangsa Iran sekarang berubah menjadi sebuah bangsa pemberani yang melawan ketamakan kekuatan imperialis.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menegaskan bahwa berpalingnya sebagian pihak dari Revolusi Islam, bukan berarti gerakan ini terhenti. Beliau menjelaskan, "Sebagian orang, dengan berbagai alasan termasuk merasa lelah atau meragukan masa lalunya atau bahkan terkesima oleh �senyum musuh', telah keluar dari jalur revolusi, akan tetapi sebaliknya berkat darah syuhada, tumbuh tunas-tunas baru generasi muda yag memberi semangat perjuangan, optimisme, dan kemuliaan."

Beliau mengimbau para cendikiawan untuk merenungi berbagai fenomena tentang pertumbuhan Revolusi Islam dan mengatakan, wawasan dan tekad generasi muda sekarang jika tidak lebih dari generasi muda di era Perang Pertahanan Suci, maka tidak lebih kecil. Menyingung penilaian keliru sejumlah pihak tentang generasi muda dan terkadang tentang kekhawatiran mereka, Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Tidak seperti penilaian keliru tersebut, kaum muda Iran beriman dan mencintai jalan yang ditempuh syuhada dan Revolusi Islam."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyeru negara-negara dunia untuk menghalangi budaya Barat dan memperingatkan bahwa meniru budaya Barat akan menorehkan luka parah. Dalam lanjutan kunjungan kerja ke Provinsi Khorasan Utara, Rahbar mengatakan sejumlah negara, tanpa memiliki keyakinan agama tertentu, mengikuti peradaban Barat.

Ayatullah Khamenei menjelaskan negara-negara tersebut mungkin tampak maju secara lahiriyah, namun akan mengalami kerugian tak berkesudahan akibat aksi penjiplakan memalukan mereka yang akan menimbulkan trauma serius pada diri dan akan menghancurkan akar jati diri mereka. Tidak seperti negara-negara peniru tersebut, bangsa-bangsa yang memiliki keyakinan ketauhidan, akan mencapai kemajuan nyata dan sempurna serta pada saat yang sama membangun sebuah peradaban yang mengakar dan akan menyebarkan budaya mereka ke seluruh penjuru dunia.

Menyinggung upaya Barat mencemooh bangsa Iran untuk menjauhi slogan-slogan tauhid, Rahbar mengatakan, "Mereka bermaksud untuk mentransfer ketakutan kepada masyarakat dan terus menyuarakan bahwa slogan tauhid akan membawa masalah, sanksi, dan ancaman." Ayatullah Khamenei mengimbau semua pihak untuk menghindar dari gaya hidup yang telah didefinisikan oleh peradaban Barat. Beliau menegaskan, "Kami tidak ingin mencari gara-gara dengan Barat, akan tetapi berdasarkan pada studi dan riset, kami menekankan bahwa mengikuti Barat tidak akan mengantarkan bangsa ke mana pun."

Menurut Rahbar, budaya Barat pada dasarnya invasif, dan dengan alasan apapun menyebar ke banyak negara, dan secara bertahap akan menghancurkan budaya dan identitas negara tersebut. Beliau menilai budaya Barat penuh dengan arogansi, materialis, bergelimang dosa, menghancurkan identitas dan anti-gaya hidup spiritual.

Pada kesempatan lain, Ayatullah Khamenei mengatakan, musuh-musuh bangsa Iran berusaha untuk menciptakan perpecahan di dalam negeri, tetapi mereka gagal dan skenario musuh justru  mempersatukan bangsa ini. Beliau menandaskan bahwa stabilitas politik di Iran saat ini merupakan satu nikmat besar dari Allah Swt. Di bagian lain pidatonya, Rahbar menyampaikan rekomendasinya kepada semua warga dan pejabat Iran terkait upaya musuh yang ingin menyulut instabilitas di Republik Islam. (IRIB Indonesia)
READ MORE

Salah satu faktor yang menyebabkan syahadah Imam Jawad as adalah kemampuan ilmunya. Karena kelebihan yang dimilikinya membuat Mu'tashim, Khalifah waktu itu tampil lemah dan bodoh di hadapan beliau. Terlebih lagi banyak yang diam-diam mengakui kekkhalifahan hak Imam Jawad as, dan bukan milik Mu'tashim. Tidak hanya itu, keilmuan Imam Jawad as dengan sendirinya melemahkan ulama istana Bani Abbasiah. Kelebihan beliau tampak dalam diskusi-diskusi yang dihadiri para ulama yang diselenggarakan pihak istana.

Zarqan yang berteman dekat dengan Ibnu Abi Dawud mengatakan, "Suatu hari Ibnu Abi Dawud kembali dari majelis Mu'tashim dengan wajah kusut. Melihat kondisinya yang demikian, saya bertanya, �Apa yang menyebabkan engkau terlihat kusut?"

Ibnu Abi Dawud menjawab, "Hari ini saya berharap telah meninggal 20 tahun yang lalu."

"Mengapa,'" tanyaku.

"Ini semua karena apa yang dilakukan oleh Abu Jakfar (Imam Jawad as) di majelis Mu'tashim," jawabnya.

Saya bertanya, "Memangnya apa yang terjadi di sana."

Ibnu Abi Dawud menjelaskan:

"Ada seorang pencuri yang mengakui perbuatannya. Pencuri itu meminta kepada Khalifah Mu'tashim untuk menerapkan hukumannya. Untuk itu Khalifah memanggil semua ulama dan Muhammad bin Jakfar (Imam Jawad as) juga diundang. Khalifah kemudian bertanya kepada kami dari mana harus dipotong tangan pencuri itu?

Saya menjawab, "Dari pergelangan tangan."

Khalifah bertanya lagi, "Apa dalilmu?"

"Karena maksud dari tangan dalam ayat Tayammum "Famsahuu Bi Wujuuhikum Wa Aidiikum" hingga ke pergelangan tangan," ujarku.

Sebagian besar ulama setuju dengan pendapatku. Mereka mengatakan, "Tangan pencuri harus dipotong dari pergelangan tangannya."

Tapi kelompok yang lain mengatakan, "Tangannya harus dipotong dari siku."

Ketika Mu'tashim bertanya dalil dari pendapat mereka, dengan sigap mereka menjawab, "Maksud dari tangan dalam ayat Wudhu "Faghsiluu Wujuuhakum Wa Aidiikum Ilal Maraafiq" sampai pada siku."

Setelah itu Mu'tashim melihat ke arah Muhammad bin Ali as dan bertanya kepadanya, "Apa pendapatmu dalam masalah ini?"

Beliau menjawab, "Mereka telah menyampaikan pendapatnya. Tidak perlulah saya berpendapat."

Mu'tashim bersikeras dan bersumpah agar beliau menyatakan pendapatnya.

Muhammad bin Ali as berkata, "Karena engkau telah bersumpah, maka saya akan menyampaikan pendapatku. Saya katakan bahwa pendapat mereka semua salah. Karena hanya jari-jari pencuri saja yang harus dipotong."

Mu'tashim bertanya, "Apa argumentasimu?"

Ia berkata, "Karena Rasulullah Saw bersabda, �Sujud harus dilakukan dengan tujuh anggota badan. Oleh karenanya, bila tangan pencuri dari pergelangan atau siku harus dipotong, maka ia tidak punya tangan lagi untuk menunaikan shalat dan bersujud. Allah Swt juga berfirman, �Al-Masajid Lillah Falaa Tad'u Ma'allahi Ahadan' (Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. QS. 72: 18)"

Ibnu Abi Dawud berkata, "Mu'tashim menerima jawaban yang disampaikan Muhammad bin Ali dan memerintahkan agar jari-jari pencuri dipotong. Menyaksikan itu saya berharap tiba-tiba mati di sana."

Tiga hari berlalu. Ibnu Abi Dawud menemui Mu'tashim dan berkata, "Sudah merupakan kewajiban bagi saya untuk senantiasa mengharapkan kebaikan Amirul Mukminin. Saya ingin berbicara dengan Baginda demi kebaikan, sekalipun saya tahu dengan ucapan ini saya akan dilemparkan ke api neraka."

Mu'tashim bertanya, "Pembicaraan tentang masalah apa?"

Ibnu Abi Dawud berkata, "Bagaimana mungkin terkait masalah agama yang baru-baru saja terjadi, Amirul Mukminin menolak ucapan seluruh ulama dan menerima pendapat dan hukum seorang pria yang mengaku ia lebih layak menjadi Khalifah dari Amirul Mukminin dan setengah dari masyarakat meyakini Imamahnya?"

Mendengar ucapanku, air muka Mu'tashim langsung berubah. Ia mengerti peringatan yang saya sampaikan kepadanya dan berkata, "Semoga Allah memberikan pahala kebaikan atas niat baikmu ini."

Setelah pertemuan itu, Mu'tashim memutuskan untuk membunuh Muhammad bin Ali. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)
READ MORE